Ulumul Quran

01-des-009-susunan-ayat-al-quran

fdf

 

 

Makkiyah dan Madaniyyah

Yang dimaksud dengan ilmu Makki dan Madani adalah ilmu yang membahas ihwal bagian al-Qur’an yang Makki dan bagian yang Madani, baik dari segi Arti dan Maknanya cara-cara mengetahuinya, atau tanda masing, maupun macam-macamnya. Sedangkan yang dimaksud dengan Makki dan Madani adalah bagian-bagian Kitab suci Al-Qur’an, di mana ada sebagiannya termasuk Makki dan ada yang termasuk Madani.

Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminology Makkiyah dan Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah masa turun (zaman an-nuzul), tempat turun (makan an-nuzul), objek pembicaraan (nukhatab), dan tema pembicaraan (maudu).[1]

Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminology di atas sebagai berikut,

Artinya:

المكيّ       : مانزل قبل هجرة وإن كان بغير مكّة.

والمدنيّ     :  مانزل بعد هجرة وإن كان بغيرمدينة. فمانزل بعد هجرة ولوبمكّة  أوعرفة مدنيّ .

Makkiyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rosulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di mekkah. Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rosulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arofah.[2]

Dengan demikian, termasuk kategori Madaniyyah kendatipun diturunkan di Mekkah, yaitu pada peristiwa terbukanya kota Mekkah (fath al-makkah).

Surat An-Nisa’ [4]: 58

¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ

” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. An-Nisa’ [4]: 58)

Begitu pula termasuk kategori Madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di Madinah, karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada’.

a. Pendekatan analogi (qiyas)

Ketika melakukan kategorisasi Makkiyah dan Madaniyyah, parasarjana muslim penganut pendekatan analogi bertolak dari cirri-ciri spesifik dari kedua klasifikasi itu.

B. Ciri-Ciri Spesifik Makkiyah dan Madaniyah

Seperti telah diuraikan di atas, para sarjana muslim telah berusaha merumusan cirri-ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah dalam menguraikan kronologi Al-Qur’an. Mereka mengajukan dua titik tekan dalam usahanya itu, yaitu titik tekan analogi dan titik tekan tematis.

ciri-ciri Makkiyah Dan Madaniyah

  • Tanda Surah Makkiyah

1)      Dimulai dengan Nida’ ( Panggilan )

2)      Di dalamnya terdapat Lafal ( “ Kalla “ ( كلاّ )

  • Tanda-tanda Surah Madaniyah

1)      Di dalamnya berisi hukum-hukum / Hudud Pidana

2)      Di dalamnya berisi hukum-hukum Fara’id

3)      Berisi izin Jihad Fi sabilillah dan hukum-hukumnya

Sedangkan berdasarkan titik tekan tematis, para ulama merumuskan cirri-ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut.

1.      Makkiyah

a.       Menjelaskan ajakan monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebangkitan dan pembalasan, uraian tentang kiamatdan perihalnya, neraka dan siksaannya, surge dan kenikatannya, dan mendebat kelompok musyrikin dengan argumentasi-argumentasi rasional dan naqli

2. Madaniyyah

a.       Menjelaskan permasalahan ibadah, mumalah, hudud, bangunan rumah tanggan, keutamaan jihad, kehidupan social, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hokum syraa’

C. Urgensi Pengetahuan Tentang Makkiyah dan Madaniyyah

An-Naisaburi dalam kitabnya At-Tanbih ‘Ala Fadhl ‘Ulum Al-Qur’an, memandang subjek Makkiyah dan Madaniyyah sebagai ilmu Al-Qur’an yang paling utama. Sementara itu, Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut.

a. Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an

b. Pedoman bagi langkah-langkah dakwah

D. Hubungan Makkiyah dan Madaniyah dengan Istinbath Hukum

Istinbath hukum adalah pengetahuan tentang kaidah dan penjelasannya yang dijadikan pedoman dalam menerapkan hukum Syari’at Islam mengenai perbuatan manusia yang besumber dalil-dalil agama yang rinci dan jelas.

Disusun Oleh :

Ahmad Safruddin     :Do1208111

Siti Mustainah           :D012081

 

Dosen Pembimbing :

Amir Maliki Abi Tholhah


[1] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulumul Al-Qur’an, Mansyura Al-‘Ashr Al-Hadist, 1973, hlm. 61-62; Subhi Ash-Shalih, Mabahits fi ‘Ulumul Al-Qur’an, Dar Al-Qalam li Al-Malayyin, Beirut, 1988, hlm. 166

[2] Badr Ad-Din Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi, Al_Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an, Jilid 1, hlm. 187; Jalahuddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘ulum Al_Qur’an, Dar Al-Fikr, Beirut, t.t., Jilid 1, hlm. 13-14; Al-Qaththan, op. cit, hlm. 61.

Iklan

About ahmad

saya dilahirkan dilamongan tepatnya di ds wonorejo dsn lengkong Rt1 Rw1, kec glagah kab Lamongan. saya juga merupakan Mahasiswa IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA. yang terakhir saya ucapkan terimakasih kepada kedua urangtuaku, saudara-saudaraku, guru-guruku yang telah membimbing dan menyayangiku. dan taklupa pula kepada teman-taman yang selalu ada ketika kesedihan menimpaku. pesanku" jadilah dirimu bunga melati yang memberikan keharuman disetiap orang yang lewat" "sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain"

Posted on Januari 8, 2009, in MY live. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: